Pendidikan Alam dan Fenomenanya dalam Al-Quran
PENDIDIKAN ALAM DAN FENOMENANYA DALAM AL-QURAN
Nurul Aulia Damogalad
Abstrak
Artikel ini membahas tentang Pendidikan Alam dan Fenomena yang ada
di dalam Al-Quran, yang harus kita ketahui karena kita saat ini berada di alam
semesta, dan dapat juga merasakan atau melihat fenomena yang terjadi secara
langsung dengan panca indera. Metode penelitian yang digunakan adalah metode
kepustakaan. Dengan tujuan untuk melakukan penelitian tentang alam dan fenomena
apa saja yang dibahas di dalam Al-Quran. Artikel ini juga menggunakan analisis
mufradat, bahasa dan sastra. Dengan mempelajari ayat-ayat Al-Quran, kita akan
mengetahui apa makna sebenarnya tentang penciptaan alam dan fenomena yang didalamnya
mengandung banyak sekali pelajaran. Sehingga manusia bisa mempercayai seutuhnya
bahwa sebenarnya alam dan fenomena ini merupakan ciptaan Allah semata. Allah
menciptakan alam dan fenomena ini bukan hanya sebagai senda gurau, akan tetapi
ada makna atau manfaat yang sangat penting didalamnya yang kebanyakan orang
belum mengetahuinya. Maka dari itu pelajarilah baik-baik ayat Al-Quran mengenai
alam dan fenomena ini agar dapat menambah ilmu pengetahuan kita dan dapat
dimanfaatkan dengan baik.
Kata Kunci : Pendidikan, Alam, Fenomena, Al-Quran
A.
PENDAHULUAN
Saudara calon guru, bahkan sebagian ada yang sudah menjadi guru,
menurut anda bagaimana pengertian pendidikan? Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata-laku
seseorang atau kelompok orang dalam upaya mendewa-dewakan manusia, melalui
upaya pengajaran dan pelatihan. Maksud dari KBBI tersebut adalah, (1) Melalui
pendidikan, orang bisa mengalami perubahan sikap dan tatalaku, memproses
menjadi dewasa dan matang dalam berperilaku; (2) Pendidikan merupakan suatu
proses pendewasaan, sehingga orang menjadi lebih matang dalam bersikap dan
bertingkah laku; dan (3) Melalui pengajaran dan pelatihan, proses pendewasaan
seseorang dapat dilakukan. Bagaimana menurut ilmuan yang lain? Pengertian
pendidikan menurut pakar pendidikan dari Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara
menyatakan bahwa pendidikan adalah upaya sadar manusia untuk meningkatkan budi
pekerti, melalui sekolah sehingga anak bisa menjadi lebih baik dan lebih
sempurna, sehingga anak didik bisa lebih maju dan seimbang secara lahir dan
bathin.(Ruminiati)
Kata “alam” dalam Bahasa Indonesia yaitu asal kata “alam” diambil
dalam Bahasa Arab, kemudian terserap menjadi Bahasa Indonesia berbunyi “alam”
juga. Sedangkan banyak para ahli tafsir Bahasa Arab memaknai kata “alam”
sebagai “kumpulan sejenis makhluk Allah yang hidup baik sempurna maupun
terbatas yang ditandai dengan adanya gerak, rasa, dan tahu”. Misalnya alam
malaikat, alam manusia, alam binatang, dan alam tumbuh-tumbuhan. Jadi tidak ada
misalnya alam batu karena batu tidak memiliki kemampuan gerak, rasa, dan tahu.(Atmonadi)
Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, fenomena diartikan sebagai
hal-hal yang dinikmati oleh panca indra dan dapat ditinjau secara ilmiah (Kamus
Lengkap Bahasa Indonesia : 1997).(Maschinen et al.) Kata fenomena juga diartikan sebagai keadaan yang sebenarnya dari
suatu urusan atau perkara. Keadaan atau kondisi khusus yang berhubungan dengan
seseorang atau suatu hal. Soal atau perkara. Fenomena adalah hal-hal yang dapat
disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah
(sepeti fenomena alam) atau gejala.(Maschinen et al.)
Al-Quran yang secara harfiah berarti “bacaan sempurna” merupakan
suatu nama pilihan Allah yang sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak
manusia mengenal tulis baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi
Al-Quran Al-Karim, bacaan sempurna lagi mulia itu. Tiada bacaan seperti
Al-Quran yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan
kosakatanya, tetapi juga kandungannya yang tersurat, tersirat bahkan sampai
kepada kesan yang ditimbulkannya. Semua dituangkan dalam jutaan jilid buku,
generasi demi generasi. Kemudian apa yang dituangkan dari sumber yang tak
pernah kering itu, berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kemampuan dan
kecenderungan mereka, namun semua mengandung kebenran. Al-Quran layaknya sebuah
permata yang memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.(M. Quraish Shihab, Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat
Wawasan Al-Quran)
Shihab menyatakan bahwa semua yang maujud selain Allah Swt,
baik yang telah diketahui maupun yang belum diketahui manusia, disebut alam.
Kata ‘alam terambil dari akar kata yang sama dengan’ilm dan ‘alamah,
yaitu sesuatu yang menjelaskan sesuatu lainnya. Karenanya, dalam konteks
ini, alam semesta adalah alamat, alat atau sarana yang sangat jelas untuk
mengetahui wujud Tuhan, Pencipta Yang Maha Esa, Maha Kuasa, lagi Maha
mengetahui. Dari sisi ini dapat dipahami bahwa keberadaan alam semesta
merupakan tanda-tanda (Ayah) yang menjadi alat atau sarana bagi manusia
untuk mengetahui wujud dan membuktikan keberadaan serta Kemahakuasaan Allah
Swt.(Muhammad Quraish Shihab)
Terdapat perbedaan pandangan di kalangan Muslim tentang asal mula
penciptaan alam semesta. Ada yang menyatakan bahwa alam semesta ini diciptakan
dari ketiadaan menjadi ada. Sementara itu ada pula yang berpendapat bahwa alam
semesta ini diciptakan dari materi atau sesuatu yang sudah ada. Pendapat
pertama ini selalu didasarkan pada penggunaan kata khalaqa yang
digunakan dalam penciptaan alam semesta. Mereka berpendapat bahwa penggunaan
kata khalaqa memiliki arti menciptakan sesuatu dari bahan yang belum ada
menjadi ada. Sementara itu,
pendapat kedua didasarkan pada informasi al-Quran yang mengindikasikan bahwa
alam semesta ini diciptakan dari suatu materi yang sudah ada. Informasi seperti
ini misalnya ditemukan dalam dua surah. Pertama QS. Fushilat [41]:11
yang menyatakan bahwa Allah Swt ‘menuju’ langit, sedangkan langit ketika itu
masih merupakan dukhan (asap). Kedua, QS.al-Anbiya [21]:30 yang
menginformasikan bahwa langit dan bumi itu dahulunya adalah Kanata ratqa yaitu
suatu yang padu, lalu Allah Swt memisahkan antara keduanya. Pandangan kedua ini
memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan para pakar astronomi dan
astrofisika yang menyimpulkan bahwa keseluruhan alam semesta ini pada awalnya
adalah satu massa yang besar (kabut angkasa utama). Kemudian terjadi Big Bang
(pemisah sekunder) yang menimbulkan terbentuknya galaksi- galaksi tersebut
kemudian terbagi-bagi dalam bentuk bintang-bintang, planet-planet, matahari,
bulan, dan lain-lain.(Rasyidin,
Falsafah Pendidikan Islami)
Apa yang disebut dengan alam semesta sering disinonimkan dengan
istilah-istilah lain, seperti semesta raya, jagad raya. Secara umum, alam
semesta dapat dipahami sebagai mikro-kromos beserta keseluruhan yang tersedia
di dalamnya, dan berbagai keteraturan atau regularitas dan stabilitas yang terjadi
dalam keberlangsungannya. Secara sederhana alam semesta terdiri dari langit dan
bumi, keduanya mewakili ciptaan Tuhan di dunia. Berbagai bentuk rupa bumi
seperti; dataran tanah, laut, kutub, pegunungan, gurun dan pantai. Rupa langit
yang terdiri dari planet-planet juga bintang-bintang yang hidup di atas bumi
sana. Al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah bukanlah omong kosong, murni
firman dari Allah. Al-Quran sudah menjelaskan bagaimana asal-muasal alam
semesta tercipta, dan penelitian abad 19 menunjukkan kesamaan hasil penelitian
dengan yang termaktub dalam Al-Quran yang diturunkan sekitar 610 Masehi. Dalam
salah satu teori mengenai terciptanya
alam semesta (big bang), disebutkan bahwa alam semesta tercipta dari
sebuah ledakan kosmos tersebut, seluruh ruang materi energy terkumpul dalam
sebuah titik. Mungkin banyak di antara kita yang telah membaca tentang teori
tersebut.(Ade Jamarudin)
Alam semesta dengan beragam fenomena di dalamnya, sejak lama telah
menjadi pemikiran manusia, mulai zaman sebelum masehi hingga zaman modern ini.
Orang-orang Babylonia, kira-kira 700-600 SM telah mendiskusikan alam semesta
ini. Menurut mereka, alam semesta ini sebagai ruang setengah bola dengan bumi
yang datar sebagai lantai-nya, sedang langit dengan bintang-bintangnya sebagai
atapnya. Pendapat orang babylonia ini mirip seperti diungkapkan Al-Quran dalam
surah Al-Baqarah (2) : 22. Biasa diduga bahwa pemikiran orang Babylonia ini
telah menyebar sampai jazirah Arab sehingga Al-Quran menegaskan kembali sebagai
ilustrasi untuk menjelaskan keagungan Allah. Ptolomeus (Hidup tahun 127-151)
berpendapat lebih maju dari orang-orang Babylonia, seperti dikemukakan di atas.
Menurutnya, bumi sebagai pusat alam semesta (geocentris), berbentuk
bulat, diam seimbang tanpa tiang berbeda dengan Ptolomeus, Pythagoras (hidup
500 SM) berpendapat bahwa unsur dasar alam semesta sebenarnya ada empat, yaitu
api, udara, tanah, dan air. Sedangkan Plato berpendapat bahwa keanekaragaman
fenomena alam semesta ini merupakan duplikat dari suatu yang kekal dan
immaterial, yaitu idea. Sementara, Aristoteles berpendapat bahwa unsur dasar
alam semesta ini adalah zat tunggal yang disebut Hule, yang zat ini
dapat berupa air, tanah, api atau udara tergantung kondisinya.(Al-quran et al.)
Dalam perspektif Islam, alam semesta adalah segala sesuatu selain
Allah Swt. Karenanya, alam semesta bukan hanya langit dan bumi, tetapi meliputi
segala sesuatu yang ada dan berada diantara keduanya. Tidak hanya itu, dalam
perspektif Islam, alam semesta tidak hanya mencakup hal-hal yang kongkrit atau
dapat diamati melalui penginderaan manusia, tetapi mencakup juga segala sesuatu
yang tidak dapat diamati oleh penginderaan manusia. Dalam Islam, segala sesuatu
selain Allah Swt, yang dapat diamati atau didekati melalui penginderaan manusia
disebut sebagai ‘alam syahadah. Ia merupakan fenomena. Sementara itu,
segala sesuatu selain Allah Swt, yang tidak dapat diamati atau didekati melalui
penginderaan manusia disebut ‘alam ghaib. Karenanya, ia adalah noumena.
Dalam Al-Quran terma ‘alam hanya ditemukan dalam bentuk plural, yaitu ‘alamin.
Kata ini terulang sebanyak 73 kali dan tersebar pada 30 surah. Hemat penulis,
Penggunaan bentuk plural mengindikasikan bahwa alam semesta ini banyak atau
beraneka ragam. Pemaknaan ini konsisten dengan konsepsi islam bahwa hanya Allah
Swt yang Ahad, Maha Tunggal dan tidak bisa dibagi-bagi. Di samping itu, hal ini
juga merupakan penegasan terhadap konsep islam tentang alam semesta yaitu,
segala sesuatu selain Allah Swt. Dari
sisi ini, penalaran kita mengharuskan eksisnya pluralitas atau kejamakan pada
alam semesta ini. Karenanya, dari satu sisi, alam semesta bisa didefinisikan
sebagai kumpulan jauhar yang tersusun dari maddah (materi) dan shurah
(bentuk), yang bisa diklasifikasikan ke dalam wujud konkrit (syahaddah)
dan wujud abstrak (ghaib). Kemudian, dari sisi lain, alam semesta bisa
pula dibagi-bagi ke dalam beberapa jenis, seperti benda-benda padat (jamadat),
tumbuh-tumbuhan (nabatat), hewan (hayyawanat) dan manusia.(Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami)
Maka dari itu, tujuan dari penulisan artikel ini untuk mengetahui
ayat-ayat tentang pendidikan alam dan fenomena yang ada di dalam Al-Quran.
Dengan mempelajari ayat-ayat Al-Quran akan bertambah ilmu pengetahuan kita,
bahwasannya alam dan fenomena itu mencakup keseluruhan yang ada di kehidupan
ini. Akibatnya bisa menambah rasa bersyukur dan keyakinan kita terhadap Allah,
bahwa hanya Allah semata yang menciptakan seluruh alam semesta yang saat ini
kita lihat yaitu bumi, langit, matahari, bulan, dll. Serta fenomena yang dapat
kita lihat sendiri dengan panca indera yang Allah anugerahkan kepada kita.
B. PEMBAHASAN
1.
Ayat dan Terjemahan
Ayat yang dibahas yaitu QS. Al-Baqarah [2]: 22
ٱلَّذِي
جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ
مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ
لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٢٢
Terjemahan : “(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit
sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia
hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu
janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu
mengetahui” (QS. Al-Baqarah [2]: 22).
2.
Analisis Mufradat
Analisis Mufrodat QS. Al-Baqarah [2]: 22 (Kamus
Al-Maany) :
Ittidhad
|
Muradif
|
Arti
|
Lafal
|
أَتَمَّ،
أكْمَلَ
|
أنْشَأَ
|
Jadikan
|
جَعَلَ
|
الفَضَاء،
السَّمَاء
|
بَسِيْطَة
|
Bumi
|
الاَرْضَ
|
إِستغْشَى
|
أوْجَبَ
|
Hamparan
|
فِرَاشًا
|
الاَرْضَ
|
فَضَاء،
الفضاء
|
Langit
|
السَّمَآءَ
|
هدَّم،
الهَدْم
|
بُنيان
|
Atap
|
بِنَآءً
|
أَبْعَدَ،
أَصْعَدَ
|
أَسْقَطَ،
أَضَافَ، حَطَّ
|
Menurunkan
|
أَنْزَلَ
|
الحَمِيم،
حُمَم
|
بِلاَل
|
Air
|
مَآءً
|
_
|
_
|
Buah-Buahan
|
الثَّمَرَاتِ
|
حَرَم،
الحِرْمان
|
بَخْت،
جَدَّ، نَصِيْب
|
Rezeki
|
رِزْقًا
|
Lafal
Firasy (فراشا) dalam AlQuran diulang sebanyak 6 kali dalam ayat dan konteks yang
berbeda. Namun, firasy yang mengandung makna bumi sebagai hamparan hanya
terdapat pada dua ayat yaitu surat
Al-Baqarah ayat 22 dan surat Adz-Dhariyat ayat 48.(Nuri, Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran) Kemudian kata al-Ardh (bumi) di dalam al-Quran disebut sebanyak
361 kali dan sekitar 461 ayat kauniyah yang membicarakan tentang bumi.(Nuri, Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran)
3.
Analisis Bahasa dan Sastra
Dalam QS. Al-Baqarah (2) : 22 terdapat keindahan bahasa (البلاغة) yaitu : Muqobalah latifah (جعل لكم الأرضَ فراشا ، والسَّما ء بناءً). Kata bumi dilawankan dengan langit, begitu juga dengan kata firasy dan bina' saling berlawanan. Muqobalah jenis ini termasuk muhassinat badi'iyah.(Al-Sabuniy)
Sedikit
penjelasan tentang Balagah pada QS.Al-Baqarah ayat 22 tersebut, Muhassinat
merupakan bagian dari ilmu Badi yang juga merupakan bagian dari Ilmu Balagah.
Ilmu Badi’ pertama kali disusun oleh
Abdullah bin al-Mu’taz al-‘Abbasi (247-274 H) berupa keindahan-keindahan
(muhassinat) dan dikumpulkan dalam sebuah buku yang bernama al-Badi’.
Dalam kitab tersebut beliau berhasil mengumpulkan 18 muhassinat, baru
kemudian Ja’far bin Qudamah menambahkan 7 muhassinat dalam bukunya Naqd
asy-Syi’r kemudian diikuti oleh ulama-ulama yang sehingga ditemukan banyak
muhassinat. Ilmu Badi digunakan untuk mengetahui aspek-aspek keindahan
kalam (ungkapan bahasa Arab) berupa syair maupun prosa. Aspek keindahan ini
dalam ilmu Badi dikenal dengan al-muhassinat atau sering juga disebut
dengan al-Muhassinat al-Badi’iyyah.(Ardiansyah)
Al-Muhassinat
terbagi dalam dua golongan, yaitu al-Muhassinat al-Ma’nawiyyah dan al-Muhassinat
al-Lafziyyah. Al-Muhassinat al-Ma’nawiyyah mengkaji keindahan-keindahan
yang kembali pada makna, sedangkan al-Muhassinat al-Lafdziyah mengkaji
keindahan-keindahan yang kembali pada lafadz.(Ardiansyah)
4.
Ayat dan Hadits Terkait
a)
Ayat
yang terkait (QS. Az-Zariyat [51]: 48)
وَٱلۡأَرۡضَ
فَرَشۡنَٰهَا فَنِعۡمَ ٱلۡمَٰهِدُونَ ٤
Terjemahan: “Dan bumi telah kami hamparkan; maka (kami) sebaik-baik
yang menghamparkan” (QS. Az-Zariyat [51]: 48)
Ayat ini
menerangkan bahwa Allah swt membentangkan bumi berupa hamparan dengan maksud
untuk dihuni oleh manusia dan hewan. Dijadikan-Nya bumi penuh rezeki dan bahan
pangan, baik berupa binatangnya, tumbuh-tumbuhan maupun yang lain-lain yang
terpelihara keabadiannya sampai hari Kiamat. Demikian juga Allah swt menjadikan
dalam perut bumi barang-barang tambang yang tampak dan yang tidak tampak yang
semuanya diperuntukkan bagi manusia. Dengan isi bumi itu manusia dapat
mendirikan bangunanbangunan, membuat perhiasan dari emas, perak, dan batu-batu
permata lainnya. Kemudian setelah itu manusia membuat alat perang, kapal laut,
pesawat terbang dari bahan besi dan dari barang tambang lainnya. Pada akhir
ayat ini Allah menyatakan kekuasaan dan keindahan ciptaan-Nya dengan
mengatakan, "Betapa bagusnya apa yang telah Kami jadikan, dan betapa
indahnya apa yang telah Kami ciptakan."(Quran Kemenag, Tafsir
Surah Az-Zariyat Ayat 48)
b) Hadits yang terkait
إِنَّالنَّبِىَّ صلى االله عليه وسلم
كَانَ إِذَارَأَ الْمَطَرَقَالَ : اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً
Artinya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat
turunnya hujan, beliau mengucapkan “Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah
turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”(H.R Bukhari).(Tuasikal)
Apabila Allah memberi nikmat hujan, dianjurkan bagi
seorang muslim dalam rangka bersyukur pada Allah untuk membaca doa. Hujan merupakan rahmat yang Allah turunkan kepada manusia, hewan,
dan tumbuh-tumbuhan.(Tuasikal) Seperti di dalam QS.Al-Baqarah ayat 22 “lalu Dia hasilkan dengan
(hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu”. Maka dari itu manusia harus
bersyukur apabila hujan turun. Karena disaat Allah menurunkan hujan, air nya
itu dapat membasahi tanah, buah-buahan, sayur-sayuran yang ditanam yang dengan
itu dapat membuat tanah menjadi subur, buah-buahan dan sayur-sayuran dapat di
masak dan dimakan. Itu semua merupakan salah satu bentuk rezeki yang Allah
berikan, maka dari itu ketika hujan turun hendaknya berdoa kepada Allah.
Sebagaimana telah dijelaskan pada hadits sebelumnya.
5.
Pendapat para Ulama/Ahli
1)
Tafsir
Al-Misbah
Allah bukan hanya menciptakan kamu, tetapi Dia juga yang
menjadikan bumi hamparan untuk kamu. Kalau kata (خلق) khalaq/
mencipta memberi kesan wujudnya sesuatu, baik
melalui bahan yang telah ada sebelumnya maupun belum ada, serta menekankan
bahwa wujud tersebut sangat hebat, dan tentu lebih hebat lagi Allah yang
meuwujudkannya. Kalau kata khalaqa demikian halnya, maka kata (جعل) ja’ala, mengandung
makna mewujudkan sesuatu dari bahan yang telah ada sebelumnya sambil menekankan
bahwa yang wujud itu sangat bermanfaat dan harus diraih manfaatnya, khususnya
oleh yang untuknya diwujudkan sesuatu itu, yakni oleh manusia. Jika demikian,
manusia yang untuknya dijadikan bumi ini terhampar harus meraih manfaat lahir
dan batin, material dan spiritual dari dijadikannya bumi ini terhampar. Jangan
biarkan bumi, tanpa dikelola dengan baik. Makmurkan ia untuk kemaslahatan
hidup, sambil mengingat bahwa sebagaimana ada makhluk yang diciptakan-Nya
sebelum kamu, ada juga makhluk yang akan datang sesudah kamu. Yang sebelum kamu
telah memanfaatkan buni ini tanpa menghabiskannya, bahkan masih menyisakan
banyak untuk kamu, maka demikian pula seharusnya kamu wahai seluruh manusia
masa kini, jangan habiskan atau rusak bumi. Ingatlah generasi sesudah kamu.
Dijadikannya
bumi terhampar bukan berarti dia diciptakan dengan demikian. Bumi
diciptakan Allah bulat atau telur. Itu adalah hakikat ilmiah yang sulit
dibantah. Keterhamparannya tidak bertentangan dengan kebulatannya. Allah
meciptakannya bulat untuk menunjukkan betapa hebat ciptaan-Nya itu. Lalu dia
menjadikan yang bulat itu terhampar bagi manusia, yakni ke manapun mereka
melangkahkan kaki mereka akan melihat atau mendapatkannya terhampar. Itu
dijadikan Allah agar manusia dapat meraih manfaat sebanyak mungkin dari
dijadikannya bumi demikian.
Firman-Nya:
Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kamu, memberi kesan
tentang betapa bumi telah dijadikan Allah Swt. Begitu mudah dan nyaman untuk
dihuni manusia, sehingga kehidupan tidak ubahnya bagaikan kasur yang terhampar
dan siap untuk ditiduri. Sungguh banyak yang tidak menyadari hal ini.
Seandainya Allah Swt. Mencabut salah satu sarana kenyamanan atau tidak
menyempurnakannya, niscaya manusia akan mengalami kesulitan hidup. Camkanlah
apa yang akan terjadi bila udara yang dihirup telah terkena polusi atau
lingkungan tercemar. Allah tidak menciptakannya demikian marena Dia menjadikan
bumi agar dihuni dengan nyaman.
Allah
bukan hanya menciptakan bumi dan menjadikannya terhampar tetapi juga menjadikan
langit sebagai bangunan/atap.
Ini
mengisyaratkan bahwa di atas langit dunia yang disebut ini, ada aneka
langit yang lain, yang tidak sesuai dengan kondisi manusia secara umum. Aneka
langt itu bila tidak terhalangi oleh
atap langit dunia, atau bila manusia berada di luar bangunan ini, niscaya
hidupnya atau kenyamanan hidupnya akan terganggu.
Bukan
hanya itu , Dia juga menyiapkan segala sarana kehidupan di dunia, material dan
immaterial. Dia pula yang menurunkan sebagian air dari langit, yakni hujan
melalui hukum-hukum alam yang ditetapkan-Nya untuk mengatur turunnya hujan. Air
yang turun dari langit adalah sebagian air. Ini dipahami dari bentuk nakirah
(indefinit) pada kata (ماء) ma’an. Memang bukan
semua air adalah hujan, karena ada air yang bersumber dari bumi, bahkan hujan
adalah air yang menguap dari bagian bumi dan membentuk awan yang kemudia
kembali ke bumi.
Dia menghasilkan dengan hujan itu buah-buahan sebagai bagian rezeki
untuk kamu. Sama dengan
kata air, kata rezeki pun berbentuk nakirah, yang dalam
ayat ini mengandung makna sebagian. Jika demikian, sumber rezeki bukan hanya
buah-buahan yang tumbuh akibat hujan, tetap masih banyak lainnya, yang
terhampar di bumi ini.
Karena iu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah,
padahal kamu mengetahui. Setelah
menyebut nikmat-material yang merupakan sumber kehidupan jasmani, ayat
berikutnya menyinggung nikmat spiritual yang pada awal surah ini dijelaskan
fungsinya sebagai petunjuk, yakni menjadi sumber kehidupan ruhani.
Thahir
Ibn ‘Asyur menjelaskan bahwa memahami makna kata ja’ala dalam arti menjadikan
yakni mewujudkan sesuatu dari bahan yang telah ada sebelumnya - memahaminya
demikian - memberi isyarat bahwa bumi yang kita huni dewasa ini telah mengalami
perubahan dan berpindah dari keadaan ke keadaan yang lain hingga menjadi
seperti sekarang. Geologi yakni ilmu tentang komposisi, struktur dan sejarah
bumi mendukung pemahaman ini. Ini sejalan juga dengan isyarat firman-Nya: “Dan
apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu
keduanya dahulu suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan anatara keduanya?”
(QS, al-Anbiya [21]: 30).
Kata
(السّماء) as-sama’ dari segi
bahasa berarti “segala apa yang berada di atas Anda”. Yang demikian dimaksud
“langit” oleh ayat ini adalah apa yang terlihat di atas kepala kita seperti
kubah berwarna biru. Sementara ulama memahaminya dalam arti udara yang meliputi
bumi kita. Oleh ayat ini as-sama’ atau udara itu , diibaratkan sebagai
banngunan. Persamaanya adalah sebagaimana bangunan menjadi pelindung bagi
manusia dari bahaya yang dapat
mengancamnya, maka langit yakni udara yang meliputi kita, juga
melindungi manusia dan makhluk-makhluk bumi dari bahaya yang dapat mengancamnya
dan yang bersumber dari lapisan-lapisan “langit” yang berada di atas “langit”
yang kita lihat seperti kubah berwarna biru itu. Para ilmuwan menjelaskan bahwa
ada lapisan ozon dalam stratosper berfungsi sebagai payung yang melindungi
kehidupan di bumi terhadap radiasi ultraviolet yang berbahaya dengan cara menyerap banyak gelombang pendek dari radiasi
itu. Jika tidak ada ozon yang menyerapnya maka radiasi itu dapat menyebabkan
sekian macam penyakit serta mengurangi sistem kekebalan tubuh dan bahan pangan
dasar manusia.
Penyebutan
bumi dan langit bukan saja karena keduanya sangat dekat ke benak manusia,
tetapi juga karena pada keduanya terdapat nikmat yang sangat dibutuhkannya; air
di bumi dan udara di langit. Di sisi lain, penyebutan dengan urutan tersebut
mengisyaratkan pula bahwa air bersumber dari bumi kemudian menguap ke udara
lalu turun kembali ke bumi dan karena
itu lanjutan ayat ini berbicara tentang nikmat Allah menurunkan air dari
langit.
Pemahaman
ayat-ayat al-Quran seperti dikemukakan ini, memang belum diketahui oleh
masyarakat umat manusia ketika turunnya
al-Quran. Dari satu sisi, ini merupakan salah satu isyarat ilmiah
al-Quran yang dapat menjadi bukti kebenarannya, di sisi lain ini menunjukkan
bahwa kitab suci al-Quran dapat menampung makna yang beraneka ragam, serta
dapat dipahami oleh ilmuan maupun orang kebanyakan. Masing-masing menimba
sesuatu berdasarkan kadar dan besarnya timba yang mereka miliki.
Penciptaan
langit dan bumi dalam keadaan seperti yang digambarkan di atas, tersedianya air
dan tumbuh berkembang dan berbuahnya pohon-pohon menunjukkan betapa Allah telah
menciptakan alam raya demikian bersahabat dengan manusia, sehingga menjadi
kewajiban manusia menyambut persahabatan itu dengan memelihara dan
mengembangkannya sebagaimana dikehendaki Allah Awt. Dengan menjadikan manusia
sebagai khalifah di bumi.(M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : Pesan, Kesan Dan
Keserasian Al-Quran)
2)
Thantowi
Jauhari
Thantowi
Jauhari, dalam kitab Tafsir Jawahir lafal فراشا diartikan بسا
طا , yang berarti hamparan.(Nuri, Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran)
3)
Sayyid
Quthb
Sayyid Quthb menafsirkan bahwa Allah menajadikan bumi sebagai
hamparan menunjukkan pemberian aneka warna kemuahan dalam kehidupan manusia
dimuka bumi ini, dan menunjukkan bahwa bumi disediakan bagi mereka untuk
menjadi tempat tinggal yang menyenangkan dan tempat berlindung yang melindungi
bagaikan hamparan.(Nuri, Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran)
4)
Sayid
Muhammad Husain Thabathaba’I dan Ibnu Katsir
Begitu
juga Sayid Muhammad Husain Thabathaba’i dan Ibnu Katsir mengaitkan hal yang
sama pada penafsirannya, yaitu menjadikan bumi sebagai hamparan bagi mereka,
terhampar seperti tempat istirahat.(Nuri, Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran)
5)
Tafsir
Kemenag
Allah
Swt menerangkan bahwa Dia menciptakan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai
atap, menurunkan air hujan, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menjadikan
tumbuh-tumbuhan itu berbuah. Semuanya diciptakan Allah untuk manusia, agar
manusia memperhatikan proses penciptaan itu, merenungkan, mempelajari dan
mengolahnya sehingga bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan sesuai dengan yang
telah diturunkan Allah.
Dengan
jelas Allah menerangkan dalam ayat ini terutama pada bagian yang mengungkapkan
Dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit lalu Dia hasilkan dengan (hujan)
itu buah-buahan. Dengan terang Allah menyebutkan bumi, langit dan benda-benda
langit, seperti matahari dan bintang-bintang adalah ciptaan Allah yang
merupakan satu kesatuan dan semuanya diatur dengan satu kesatuan sistem yang
dalam ilmu pengetahuan modern disebut ekosistem.
Selama
belum dirusak oleh tangan-tangan manusia yang memperturutkan hawa nafsunya,
semua berjalan dengan tertib dan teratur. Laut yang luas yang disinari panas
matahari kemudian menyebabkan uap air yang banyak. Uap air ini naik ke atas
menjadi awan dan mendung, kemudian disebarkan oleh angin ke seluruh permukaan
Bumi, sehingga uap air yang banyak sekali ini di atas gunung-gunung menjadi
dingin kemudian menjadi titik-titik dan menjadi hujan dapat mengairi permukaan
bumi yang luas, bukan hanya timbul hujan di atas laut, tetapi juga di darat, karena
bantuan angin yang menyebarkannya. Disebabkan hujan yang turun dari langit itu
kemudian bumi menjadi subur, berbagai tanaman buah, sayur, biji-bijian serta
ubi dan sebagainya tumbuh dan memberikan manfaat yang banyak bagi manusia dan
semua makhluk di bumi.
Disamping itu, turunnya hujan juga menimbulkan
sungai, danau dan sumur terisi air serta memperluas kesuburan bumi. Hutan yang
lebat juga membantu menyalurkan air dalam bumi, membantu menyalurkan udara
segar, menyejukkan udara yang panas dan memelihara kesuburan bumi. Manusia
dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat
mengetahui kapan banyak turun hujan dan kapan jarang turun hujan atau bahkan
sama sekali tidak ada hujan, berdasarkan letak bintang di langit maupun
peredaran angin. Juga dapat diketahui dimana berkumpulnya ikan-ikan di laut
yang banyak sekali jenis dan ragamnya, bahkan ke mana burung-burung pergi pada
musim-musim tertentu dapat diketahuinya. Berikut penjelasan saintis/ilmuan
tentang langit sebagai atap: Atap untuk sebuah bangunan terutama diperlukan
agar penghuni yang tinggal didalamnya terhindar dari hujan dan panas matahari.
Dalam konteks ayat di atas
langit sebagai atap adalah perumpamaan yang ditujukan untuk bumi tempat kita
hidup. Setiap saat, bumi dihujani benda angkasa yang antara lain adalah
meteorit. Akan tetapi, sampai saat ini bumi tidak porak poranda. Hal ini
disebabkan bumi diselimuti oleh gas atau udara yang bernama atmosfer. Sebelum
sampai ke bumi, meteorid akan terpecah belah dan hancur saat memasuki atmosfer.
Sebelum sampai ke atmosfer sinar yang dipancarkan matahari pun memecahkan
meteorid yang ada. Radiasi sinar matahari inilah yang dapat meledakkan meteorid
dalam perjalanannya ke bumi dan kemudian diserap oleh lapisan ozon. Dengan
demikian atmosfer dan lapisan ozon merupakan selubung pengaman atau dengan kata
lain boleh disebut sebagai atap bagi bumi. Bumi tidak mungkin dihuni oleh
makhluk hidup tanpa adanya atap tersebut.
Ayat lain yang menyatakan
hal yang sama adalah QS. Al-Anbiya [21]: 32 yang artinya: Dan Kami menjadikan
langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap berpaling dari
tanda-tanda (kebesaran Allah) itu (matahari, bulan, angin, awan dan
lain-lainnya). (QS. Al-Anbiya [21]: 32) Tebal atmosfer mencapai 560 kilometer,
diukur dari permukaan bumi. Penelitian mengenai atmosfer dimulai dengan
menggunakan fenomena alam yang dapat dilihat dari bumi, seperti warna-warna
indah saat matahari terbit dan terbenam, dan kilapan cahaya bintang. Dalam
tahun-tahun belakangan ini, dengan menggunakan peralatan canggih yang ditaruh
dalam satelit di luar angkasa, kita dapat mengerti lebih baik mengenai atmosfer
dan fungsinya untuk bumi.
Secara keseluruhan, dapat
dikatakan bahwa kehidupan di bumi didukung oleh tiga hal, yaitu adanya
atmosfer, adanya energi yang datang dari sinar matahari, dan hadirnya medan
magnet bumi. Atmosfer diketahui menyerap sebagian besar energi sinar matahari,
mendaur ulang air dan beberapa komponen kimia lainnya, dan bekerjasama dengan
muatan listrik dan magnet yang ada untuk menghasilkan cuaca yang nyaman.
Atmosfer juga melindungi kehidupan bumi dari ruang angkasa yang hampa udara dan
bersuhu rendah. Atmosfer terdiri atas lapisan-lapisan gas yang berbeda-beda.
Empat lapisan dapat dibedakan berdasarkan perbedaan suhu, perbedaan komposisi
bahan kimia, pergerakan-pergerakan bahan kimia di dalamnya, dan perbedaan
kepadatan udara. Keempat lapisan tersebut adalah Troposfer, Stratosfer,
Mesosfer, dan Thermosfer, atau dapat pula dibagi menjadi tujuh seperti yang
dijelaskan pada QS. Al-Baqarah [2]: 29. Komposisi gas di atmosfer terutama
terdiri atas nitrogen (78%), oksigen (21%) dan argon (1%). Beberapa komponen
yang sangat berpengaruh pada iklim dan cuaca juga hadir, meski dalam jumlah
yang sangat kecil seperti uap air (0,25%), karbondioksida (0,036%) dan ozone
(0,015%) Perihal angin, awan dan air hujan Hubungan angin dan awan yang
kemudian menghasilkan hujan dapat dijelaskan dengan melihat pada siklus air.
Siklus air berlangsung mulai penguapan air laut yang membubung ke atas menjadi
awan lalu turun ke bumi dalam bentuk tetes air hujan, kemudian air yang turun
dalam bentuk hujan itu kembali lagi ke laut melalui sungai dan air bawah tanah.
Al-Qur'an tidak menyebut secara rinci siklus air seperti itu, akan
tetapi, banyak ayat yang menjelaskan beberapa bagian dari proses keseluruhannya
secara sangat akurat. Antara lain dua ayat di bawah ini. Allah-lah yang
mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya
di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu
engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya
kepada kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka gembira.(QS.
Ar-Rum [30]: 48) Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak
perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk,
lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya, dan Dia (juga) menurunkan
(butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti)
gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan
dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir
menghilangkan penglihatan.(QS. An-Nur [24]: 43) Kedua ayat di atas
menggambarkan tahapan-tahapan pembentukan awan yang menghasilkan hujan, yang
dalam gilirannya, merupakan salah satu tahap dalam siklus air. Dengan melihat
lebih cermat kedua ayat di atas maka tampak nyata adanya dua fenomena. Pertama
adalah penyebaran awan dan lainnya adalah penyatuan awan.
Dua proses yang berlawanan
terjadi sehingga awan hujan dapat dibentuk. Dua proses yang disebutkan dalam
Al-Qur'an ini baru ditemukan oleh ilmu meteorologi modern sekitar 200 tahun
yang lalu. Ada dua tipe awan yang dapat menghasilkan hujan. Keduanya dapat diklasifikasikan
berdasarkan bentuknya, yaitu stratus (tipe berlapis) dan cumulus (tipe
menumpuk). Pada tipe awan yang berlapis, dua tahapan penting yang terjadi
adalah tahap awan tipe stratus dan nimbostratus (nimbo artinya hujan). Ayat
pertama di atas (QS.Ar-Rum [30]: 48), secara sangat jelas memberikan informasi
mengenai formasi awan yang berlapis. Tipe awan semacam itu hanya akan terbentuk
dalam kondisi angin yang bertiup secara bertahap dan secara perlahan menaikan
awan ke atas. Selanjutnya, awan tersebut akan berbentuk seperti lapisan-lapisan
yang melebar (“Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan
awan dan Allah membentangkannya di langit”). Apabila kondisinya cocok, (antara
lain jika suhu cukup rendah dan kadar air cukup tinggi) maka butir-butir air
akan menyatu dan menjadi butiran-butiran air yang lebih besar. Kita dapat
melihat proses tersebut sebagai menghitamnya awan. Dalam terjemahan Quraish
Shihab, bagian ini disebutkan sebagai: “dan menjadikannya bergumpal-gumpal”.
Namun dalam terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Inggris, bagian ini diterjemahkan
sebagai: “and makes them dark”. Akhirnya, butiran air hujan akan jatuh dari
awan: “lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya”. Tipe awan yang
kedua yang dapat menghasilkan hujan adalah tipe awan yang bertumpuk-tumpuk.
Awan ini terbagi berdasarkan bentuknya dalam beberapa nama, yaitu cumulus,
cumulonimbus dan stratocumulus. Awan ini ditandai oleh bentuknya yang
bergumpal-gumpal dan saling bertumpuk. Cumulus dan cumulonimbus adalah tipe
awan yang bergumpal-gumpal, sedangkan stratocumulus tidak bergumpal, sedikit
menipis dan melebar.
Ayat kedua (QS. An-Nur [24]:
43) menjelaskan pembentukan tipe awan ini. Awan tipe ini dibentuk oleh angin
keras yang mengarah ke atas dan ke bawah “bahwa Allah menggerakkan awan”. Dalam
terjemahan Al-Qur'an bahasa Inggris, bagian ayat ini diterjemahkan sebagai:
“drives clouds with force”. Mendorong awan dengan kuat. Ketika gumpalan awan
terjadi, mereka menyatu menjadi gumpalan awan raksasa, bertumpuk-tumpuk satu
sama lain. Pada titik ini, awan cumulus atau cumulonimbus sudah dapat
menghasilkan air hujan. Kalimat selanjutnya dari ayat ini, nampaknya
menggambarkan secara khusus terjadinya cumulonimbus, suatu keadaan awan yang
dikenal dengan nama awan badai. Tumpukan gumpalan awan yang menjulang ke atas
ini apabila di lihat dari bawah mirip dengan bentuk gunung. Dengan menjulang
tinggi ke angkasa maka butir air yang sudah terbentuk akan membeku menjadi
butiran es (“lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau melihat hujan
keluar dari celah-celahnya, dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari
langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung”), Awan
cumulonimbus juga menghasilkan ciptaan Tuhan yang sangat berharga, yaitu halilintar
(“kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan”). (Quran Kemenag, Tafsir
Surah Al-Baqarah Ayat 22)
6. Analisis
Kandungan Makna
Dalam QS.
Al-Baqarah ayat 22 yang menjadi ayat utama dalam artikel ini, meupakan salah
satu ayat yang membahas tentang alam yaitu bumi dan langit serta fenomena yaitu
diturunkannya hujan. Dalam arti ayat tersebut terdapat kata hamparan yang
belum diketahui maknanya secara jelas, jadi hamparan menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) yaitu sesuatu yang dihamparkan (tikar permadani dan
sebagainya) . Di dalam buku Al Fathun Nawa juga terdapat kandungan pembaharuan
kemanusiaan dalam bentuk nasihat; Dalam hidup dan kehidupan di muka bumi, bumi
yang dijadikan Tuhan dalam bentuk hamparan adalah tempat kediaman bagi manusia.
Tempat membina kehidupan dan menempa keberhasilan. Di samping itu Tuhan
mengemukakan kepada manusia bahwa langit yang tampak seperti atap adalah satu
khazanah keindahan untuk menjadikan manusia bisa menerima hujan serta ia
dijadikan sebagai tempat renungan hati dan dirinya terhadap kekuasaan Tuhan
yang menciptakannya. Demikianlah jika dirinya berakal, tentu ia akan dapat
menggabungkan setiap unsur ciptaan Tuhan yang lain. Kemudian manusia mampu
menghasilkan satu bentuk furqan yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupannya.
Renungkanlah!(N)
7. Pesan-Pesan
Pendidikan
Terdapat juga pesan-pesan pendidikan dari
materi artikel ini yang berdasarkan juga dengan QS. Al-Baqarah ayat 22 yaitu:
Menjadi
seorang Muslim memang seharusnya mempelajari dan memahami ayat-ayat Al-Quran.
Karena Al-Quran merupakan salah satu pedoman hidup manusia selain Hadis dan
Sunnah Rasulullah SAW, yang ketiganya ini harus kita yakini dan ikuti. Saat
seseorang mempelajari ayat Al-Quran dengan bersungguh-sungguh maka ia akan
menemukan banyak sekali ayat Al-Quran tentang alam dan fenomena. Terdapat
banyak sekali ayat Al-Quran mengenai alam dan fenomena, diantaranya tentang
penciptaan langit dan bumi, bagaimana cara Allah dalam menciptakan langit dan
bumi, pergantian siang dan malam, adanya matahari, bulan, dan bintang yang
tempatnya di langit, cara Allah menurunkan air hujan. Adapun manfaat dari turunnya air hujan yaitu
bisa menyuburkan tanah maupun tanaman yang ada di bumi ini yang menyebabkan
tidak adanya kekeringan, dan tumbuhlah segala jenis makanan yaitu sayuran dan
buah-buahan yang dapat dimakan. Itu semua merupakan bentuk nikmat rezeki yang
Allah berikan yang sering sekali kita lupa untuk mensyukurinya. Maka dari itu,
pelajarilah ayat Al-Quran dengan baik maka hati kita bisa dengan mudahnya
bersyukur kepada Allah atas apa yang Dia berikan. Dengan mentadabburi ayat Al-Quran
mengenai alam dan fenomena, kita akan lebih sadar bahwa betapa indahnya tujuan
Allah menciptakan langit dan bumi yang keduanya memiliki manfaatnya
masing-masing. Dan hal ini akan membuat seseorang akan lebih yakin dan percaya
bahwasannya hanya Allah semata yang menciptakan segala sesuatu yang ada di
kehidupan ini dan hanya Allah Tuhan yang berhak disembah.
C. KESIMPULAN
Pendidikan merupakan suatu proses pendewasaan, sehingga orang
menjadi lebih matang dalam bersikap dan bertingkah laku. Sedangkan para ahli
tafsir Bahasa Arab memaknai kata “alam” sebagai “kumpulan sejenis makhluk Allah
yang hidup baik sempurna maupun terbatas yang ditandai dengan adanya gerak,
rasa, dan tahu”. Fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan
pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah (sepeti fenomena
alam). Al-Quran yang secara harfiah berarti “bacaan sempurna” merupakan
suatu nama pilihan Allah yang sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak
manusia mengenal tulis baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi
Al-Quran Al-Karim, bacaan sempurna lagi mulia itu. Dalam perspektif Islam, alam
semesta adalah segala sesuatu selain Allah Swt. Karenanya, alam semesta bukan
hanya langit dan bumi, tetapi meliputi segala sesuatu yang ada dan berada
diantara keduanya. Tidak hanya itu, dalam perspektif Islam, alam semesta tidak
hanya mencakup hal-hal yang kongkrit atau dapat diamati melalui penginderaan
manusia, tetapi mencakup juga segala sesuatu yang tidak dapat diamati oleh
penginderaan manusia. Dalam Islam, segala sesuatu selain Allah Swt, yang dapat
diamati atau didekati melalui penginderaan manusia disebut sebagai ‘alam
syahadah. Ia merupakan fenomena. Sementara itu, segala sesuatu selain Allah
Swt, yang tidak dapat diamati atau didekati melalui penginderaan manusia
disebut ‘alam ghaib. Karenanya, ia adalah noumena.
DAFTAR PUSTAKA
Ade Jamarudin. “Konsep Alam Semesta Menurut Al-Quran.” Jurnal
Ushuluddin, vol. 16, no. 2, 2010, pp. 136–51,
http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/ushuludin/article/view/670/621.
Al-quran, Dalam, et al. “Awal Kejadian Alam Semesta Dalam
Al-Quran (.” Suhuf, vol. XVII, 2005, pp. 97–107.
Al-Sabuniy, Muhammad ’Ali. Safwah At-Tafasir Juz 1.
1981, p. 43.
Ardiansyah. Al-Muhassinat Al-Badi’iyyah Pada Ayat-Ayat
Hukum Tentang Berjuang Di Jalan Allah. pp. 447–64, file:///C:/Users/TOSHIBA/Downloads/553-1622-1-PB
(1).pdf.
Atmonadi. Kun Fayakun : Buku Pertama : Man Arofa Nafsahu
Faqod Arofa Robbahu. Atmoon Self Publishing, 2018,
https://books.google.co.id/books?id=9shyDwAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_ge_summary_r&cad=0#v=onepage&q&f=false.
Kamus Al-Maany.
https://www.almaany.com/id/dict/ar-id/. Accessed 24 Apr. 2020.
Maschinen, B., et al. No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康関連指標に関する共分散構造分析Title.
N, Dr. Halo. Al Fathun Nawa. Edited by Hasbullah bin Zakaria,
1st ed., Hafizul Publications, 2016.
Nuri, Nafisatun. Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam
Al-Quran. Universitas Islam Negeri Walisongo, 2019.
---. Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran.
Universitas Islam Negeri Walisongo, 2019.
---. Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran.
Universitas Islam Walisongo, 2019.
---. Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran.
Universitas Islam Walisongo, 2019.
Quran Kemenag. Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 22.
https://quran.kemenag.go.id/index.php/sura/2. Accessed 29 Apr. 2020.
---. Tafsir Surah Az-Zariyat Ayat 48.
https://quran.kemenag.go.id/index.php/sura/51/48. Accessed 29 Apr. 2020.
Rasyidin, Al. Falsafah Pendidikan Islami. CitaPustaka
Media Perintis, 2008.
---. Falsafah Pendidikan Islami. Pertama, CitaPustaka
Media Perintis, 2008.
Ruminiati. Sosio Antropologi Pendidikan Suatu Kajian
Multikultural. 2nd ed., Penerbit Gunung Samudera, 2016.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah : Pesan, Kesan Dan
Keserasian Al-Quran. 1st ed., Lentera Hati, 2000.
---. Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat Wawasan
Al-Quran. 13th ed., no. November, Mizan, 1996, www.bektiharjo.com.
Shihab, Muhammad Quraish. Tafsir Al-Misbah : Pesan-Pesan,
Kesan, Dan Keserasian Al-Quran. Lentera Hati, 2004.
Tuasikal, M. Abduh. “Menjaga Kesehatan Di Musim Hujan.” Pustaka
Muslim, 2014, pp. 2–3.
Komentar
Posting Komentar