Pendidikan Alam dan Fenomenanya dalam Al-Quran


PENDIDIKAN ALAM DAN FENOMENANYA DALAM AL-QURAN
Nurul Aulia Damogalad

Abstrak
Artikel ini membahas tentang Pendidikan Alam dan Fenomena yang ada di dalam Al-Quran, yang harus kita ketahui karena kita saat ini berada di alam semesta, dan dapat juga merasakan atau melihat fenomena yang terjadi secara langsung dengan panca indera. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kepustakaan. Dengan tujuan untuk melakukan penelitian tentang alam dan fenomena apa saja yang dibahas di dalam Al-Quran. Artikel ini juga menggunakan analisis mufradat, bahasa dan sastra. Dengan mempelajari ayat-ayat Al-Quran, kita akan mengetahui apa makna sebenarnya tentang penciptaan alam dan fenomena yang didalamnya mengandung banyak sekali pelajaran. Sehingga manusia bisa mempercayai seutuhnya bahwa sebenarnya alam dan fenomena ini merupakan ciptaan Allah semata. Allah menciptakan alam dan fenomena ini bukan hanya sebagai senda gurau, akan tetapi ada makna atau manfaat yang sangat penting didalamnya yang kebanyakan orang belum mengetahuinya. Maka dari itu pelajarilah baik-baik ayat Al-Quran mengenai alam dan fenomena ini agar dapat menambah ilmu pengetahuan kita dan dapat dimanfaatkan dengan baik.
Kata Kunci : Pendidikan, Alam, Fenomena, Al-Quran


A. PENDAHULUAN
Saudara calon guru, bahkan sebagian ada yang sudah menjadi guru, menurut anda bagaimana pengertian pendidikan? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata-laku seseorang atau kelompok orang dalam upaya mendewa-dewakan manusia, melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Maksud dari KBBI tersebut adalah, (1) Melalui pendidikan, orang bisa mengalami perubahan sikap dan tatalaku, memproses menjadi dewasa dan matang dalam berperilaku; (2) Pendidikan merupakan suatu proses pendewasaan, sehingga orang menjadi lebih matang dalam bersikap dan bertingkah laku; dan (3) Melalui pengajaran dan pelatihan, proses pendewasaan seseorang dapat dilakukan. Bagaimana menurut ilmuan yang lain? Pengertian pendidikan menurut pakar pendidikan dari Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah upaya sadar manusia untuk meningkatkan budi pekerti, melalui sekolah sehingga anak bisa menjadi lebih baik dan lebih sempurna, sehingga anak didik bisa lebih maju dan seimbang secara lahir dan bathin.(Ruminiati)
Kata “alam” dalam Bahasa Indonesia yaitu asal kata “alam” diambil dalam Bahasa Arab, kemudian terserap menjadi Bahasa Indonesia berbunyi “alam” juga. Sedangkan banyak para ahli tafsir Bahasa Arab memaknai kata “alam” sebagai “kumpulan sejenis makhluk Allah yang hidup baik sempurna maupun terbatas yang ditandai dengan adanya gerak, rasa, dan tahu”. Misalnya alam malaikat, alam manusia, alam binatang, dan alam tumbuh-tumbuhan. Jadi tidak ada misalnya alam batu karena batu tidak memiliki kemampuan gerak, rasa, dan tahu.(Atmonadi)
Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, fenomena diartikan sebagai hal-hal yang dinikmati oleh panca indra dan dapat ditinjau secara ilmiah (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia : 1997).(Maschinen et al.) Kata fenomena juga diartikan sebagai keadaan yang sebenarnya dari suatu urusan atau perkara. Keadaan atau kondisi khusus yang berhubungan dengan seseorang atau suatu hal. Soal atau perkara. Fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah (sepeti fenomena alam) atau gejala.(Maschinen et al.)
Al-Quran yang secara harfiah berarti “bacaan sempurna” merupakan suatu nama pilihan Allah yang sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi Al-Quran Al-Karim, bacaan sempurna lagi mulia itu. Tiada bacaan seperti Al-Quran yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya, tetapi juga kandungannya yang tersurat, tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Semua dituangkan dalam jutaan jilid buku, generasi demi generasi. Kemudian apa yang dituangkan dari sumber yang tak pernah kering itu, berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kemampuan dan kecenderungan mereka, namun semua mengandung kebenran. Al-Quran layaknya sebuah permata yang memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.(M. Quraish Shihab, Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat Wawasan Al-Quran)
Shihab menyatakan bahwa semua yang maujud selain Allah Swt, baik yang telah diketahui maupun yang belum diketahui manusia, disebut alam. Kata ‘alam terambil dari akar kata yang sama dengan’ilm dan ‘alamah, yaitu sesuatu yang menjelaskan sesuatu lainnya. Karenanya, dalam konteks ini, alam semesta adalah alamat, alat atau sarana yang sangat jelas untuk mengetahui wujud Tuhan, Pencipta Yang Maha Esa, Maha Kuasa, lagi Maha mengetahui. Dari sisi ini dapat dipahami bahwa keberadaan alam semesta merupakan tanda-tanda (Ayah) yang menjadi alat atau sarana bagi manusia untuk mengetahui wujud dan membuktikan keberadaan serta Kemahakuasaan Allah Swt.(Muhammad Quraish Shihab)
Terdapat perbedaan pandangan di kalangan Muslim tentang asal mula penciptaan alam semesta. Ada yang menyatakan bahwa alam semesta ini diciptakan dari ketiadaan menjadi ada. Sementara itu ada pula yang berpendapat bahwa alam semesta ini diciptakan dari materi atau sesuatu yang sudah ada. Pendapat pertama ini selalu didasarkan pada penggunaan kata khalaqa yang digunakan dalam penciptaan alam semesta. Mereka berpendapat bahwa penggunaan kata khalaqa memiliki arti menciptakan sesuatu dari bahan yang belum ada menjadi ada. Sementara itu, pendapat kedua didasarkan pada informasi al-Quran yang mengindikasikan bahwa alam semesta ini diciptakan dari suatu materi yang sudah ada. Informasi seperti ini misalnya ditemukan dalam dua surah. Pertama QS. Fushilat [41]:11 yang menyatakan bahwa Allah Swt ‘menuju’ langit, sedangkan langit ketika itu masih merupakan dukhan (asap). Kedua, QS.al-Anbiya [21]:30 yang menginformasikan bahwa langit dan bumi itu dahulunya adalah Kanata ratqa yaitu suatu yang padu, lalu Allah Swt memisahkan antara keduanya. Pandangan kedua ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan para pakar astronomi dan astrofisika yang menyimpulkan bahwa keseluruhan alam semesta ini pada awalnya adalah satu massa yang besar (kabut angkasa utama). Kemudian terjadi Big Bang (pemisah sekunder) yang menimbulkan terbentuknya galaksi- galaksi tersebut kemudian terbagi-bagi dalam bentuk bintang-bintang, planet-planet, matahari, bulan, dan lain-lain.(Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami)
Apa yang disebut dengan alam semesta sering disinonimkan dengan istilah-istilah lain, seperti semesta raya, jagad raya. Secara umum, alam semesta dapat dipahami sebagai mikro-kromos beserta keseluruhan yang tersedia di dalamnya, dan berbagai keteraturan atau regularitas dan stabilitas yang terjadi dalam keberlangsungannya. Secara sederhana alam semesta terdiri dari langit dan bumi, keduanya mewakili ciptaan Tuhan di dunia. Berbagai bentuk rupa bumi seperti; dataran tanah, laut, kutub, pegunungan, gurun dan pantai. Rupa langit yang terdiri dari planet-planet juga bintang-bintang yang hidup di atas bumi sana. Al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah bukanlah omong kosong, murni firman dari Allah. Al-Quran sudah menjelaskan bagaimana asal-muasal alam semesta tercipta, dan penelitian abad 19 menunjukkan kesamaan hasil penelitian dengan yang termaktub dalam Al-Quran yang diturunkan sekitar 610 Masehi. Dalam salah satu teori mengenai terciptanya  alam semesta (big bang), disebutkan bahwa alam semesta tercipta dari sebuah ledakan kosmos tersebut, seluruh ruang materi energy terkumpul dalam sebuah titik. Mungkin banyak di antara kita yang telah membaca tentang teori tersebut.(Ade Jamarudin)
Alam semesta dengan beragam fenomena di dalamnya, sejak lama telah menjadi pemikiran manusia, mulai zaman sebelum masehi hingga zaman modern ini. Orang-orang Babylonia, kira-kira 700-600 SM telah mendiskusikan alam semesta ini. Menurut mereka, alam semesta ini sebagai ruang setengah bola dengan bumi yang datar sebagai lantai-nya, sedang langit dengan bintang-bintangnya sebagai atapnya. Pendapat orang babylonia ini mirip seperti diungkapkan Al-Quran dalam surah Al-Baqarah (2) : 22. Biasa diduga bahwa pemikiran orang Babylonia ini telah menyebar sampai jazirah Arab sehingga Al-Quran menegaskan kembali sebagai ilustrasi untuk menjelaskan keagungan Allah. Ptolomeus (Hidup tahun 127-151) berpendapat lebih maju dari orang-orang Babylonia, seperti dikemukakan di atas. Menurutnya, bumi sebagai pusat alam semesta (geocentris), berbentuk bulat, diam seimbang tanpa tiang berbeda dengan Ptolomeus, Pythagoras (hidup 500 SM) berpendapat bahwa unsur dasar alam semesta sebenarnya ada empat, yaitu api, udara, tanah, dan air. Sedangkan Plato berpendapat bahwa keanekaragaman fenomena alam semesta ini merupakan duplikat dari suatu yang kekal dan immaterial, yaitu idea. Sementara, Aristoteles berpendapat bahwa unsur dasar alam semesta ini adalah zat tunggal yang disebut Hule, yang zat ini dapat berupa air, tanah, api atau udara tergantung kondisinya.(Al-quran et al.)
Dalam perspektif Islam, alam semesta adalah segala sesuatu selain Allah Swt. Karenanya, alam semesta bukan hanya langit dan bumi, tetapi meliputi segala sesuatu yang ada dan berada diantara keduanya. Tidak hanya itu, dalam perspektif Islam, alam semesta tidak hanya mencakup hal-hal yang kongkrit atau dapat diamati melalui penginderaan manusia, tetapi mencakup juga segala sesuatu yang tidak dapat diamati oleh penginderaan manusia. Dalam Islam, segala sesuatu selain Allah Swt, yang dapat diamati atau didekati melalui penginderaan manusia disebut sebagai ‘alam syahadah. Ia merupakan fenomena. Sementara itu, segala sesuatu selain Allah Swt, yang tidak dapat diamati atau didekati melalui penginderaan manusia disebut ‘alam ghaib. Karenanya, ia adalah noumena. Dalam Al-Quran terma ‘alam hanya ditemukan dalam bentuk plural, yaitu ‘alamin. Kata ini terulang sebanyak 73 kali dan tersebar pada 30 surah. Hemat penulis, Penggunaan bentuk plural mengindikasikan bahwa alam semesta ini banyak atau beraneka ragam. Pemaknaan ini konsisten dengan konsepsi islam bahwa hanya Allah Swt yang Ahad, Maha Tunggal dan tidak bisa dibagi-bagi. Di samping itu, hal ini juga merupakan penegasan terhadap konsep islam tentang alam semesta yaitu, segala sesuatu selain  Allah Swt. Dari sisi ini, penalaran kita mengharuskan eksisnya pluralitas atau kejamakan pada alam semesta ini. Karenanya, dari satu sisi, alam semesta bisa didefinisikan sebagai kumpulan jauhar yang tersusun dari maddah (materi) dan shurah (bentuk), yang bisa diklasifikasikan ke dalam wujud konkrit (syahaddah) dan wujud abstrak (ghaib). Kemudian, dari sisi lain, alam semesta bisa pula dibagi-bagi ke dalam beberapa jenis, seperti benda-benda padat (jamadat), tumbuh-tumbuhan (nabatat), hewan (hayyawanat) dan manusia.(Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami)
Maka dari itu, tujuan dari penulisan artikel ini untuk mengetahui ayat-ayat tentang pendidikan alam dan fenomena yang ada di dalam Al-Quran. Dengan mempelajari ayat-ayat Al-Quran akan bertambah ilmu pengetahuan kita, bahwasannya alam dan fenomena itu mencakup keseluruhan yang ada di kehidupan ini. Akibatnya bisa menambah rasa bersyukur dan keyakinan kita terhadap Allah, bahwa hanya Allah semata yang menciptakan seluruh alam semesta yang saat ini kita lihat yaitu bumi, langit, matahari, bulan, dll. Serta fenomena yang dapat kita lihat sendiri dengan panca indera yang Allah anugerahkan kepada kita.

B. PEMBAHASAN
1.      Ayat dan Terjemahan
Ayat yang dibahas yaitu QS. Al-Baqarah [2]: 22
ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٢٢
Terjemahan : “(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah [2]: 22).
2.      Analisis Mufradat
Analisis Mufrodat QS. Al-Baqarah [2]: 22 (Kamus Al-Maany) :
Ittidhad
Muradif
Arti
Lafal
أَتَمَّ، أكْمَلَ
أنْشَأَ
Jadikan
جَعَلَ
الفَضَاء، السَّمَاء
بَسِيْطَة
Bumi
الاَرْضَ
إِستغْشَى
أوْجَبَ
Hamparan
فِرَاشًا
الاَرْضَ
فَضَاء، الفضاء
Langit
السَّمَآءَ
هدَّم، الهَدْم
بُنيان
Atap
بِنَآءً
أَبْعَدَ، أَصْعَدَ
أَسْقَطَ، أَضَافَ، حَطَّ
Menurunkan
أَنْزَلَ
الحَمِيم، حُمَم
بِلاَل
Air
مَآءً
_
_
Buah-Buahan
الثَّمَرَاتِ
حَرَم، الحِرْمان
بَخْت، جَدَّ، نَصِيْب
Rezeki
رِزْقًا
Lafal Firasy (فراشا) dalam AlQuran diulang sebanyak 6 kali dalam ayat dan konteks yang berbeda. Namun, firasy yang mengandung makna bumi sebagai hamparan hanya terdapat  pada dua ayat yaitu surat Al-Baqarah ayat 22 dan surat Adz-Dhariyat ayat 48.(Nuri, Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran) Kemudian kata al-Ardh (bumi) di dalam al-Quran disebut sebanyak 361 kali dan sekitar 461 ayat kauniyah yang membicarakan tentang bumi.(Nuri, Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran)
3.      Analisis Bahasa dan Sastra
Dalam QS. Al-Baqarah (2) : 22 terdapat keindahan bahasa  (البلاغة) yaitu : Muqobalah latifah (جعل لكم الأرضَ فراشا ، والسَّما ء بناءً). Kata bumi dilawankan dengan langit, begitu juga dengan kata firasy dan bina' saling berlawanan. Muqobalah jenis ini termasuk muhassinat badi'iyah.(Al-Sabuniy)
Sedikit penjelasan tentang Balagah pada QS.Al-Baqarah ayat 22 tersebut, Muhassinat merupakan bagian dari ilmu Badi yang juga merupakan bagian dari Ilmu Balagah. Ilmu Badi’ pertama kali disusun oleh  Abdullah bin al-Mu’taz al-‘Abbasi (247-274 H) berupa keindahan-keindahan (muhassinat) dan dikumpulkan dalam sebuah buku yang bernama al-Badi’. Dalam kitab tersebut beliau berhasil mengumpulkan 18 muhassinat, baru kemudian Ja’far bin Qudamah menambahkan 7 muhassinat dalam bukunya Naqd asy-Syi’r kemudian diikuti oleh ulama-ulama yang sehingga ditemukan banyak muhassinat. Ilmu Badi digunakan untuk mengetahui aspek-aspek keindahan kalam (ungkapan bahasa Arab) berupa syair maupun prosa. Aspek keindahan ini dalam ilmu Badi dikenal dengan al-muhassinat atau sering juga disebut dengan al-Muhassinat al-Badi’iyyah.(Ardiansyah)
Al-Muhassinat terbagi dalam dua golongan, yaitu al-Muhassinat al-Ma’nawiyyah dan al-Muhassinat al-Lafziyyah. Al-Muhassinat al-Ma’nawiyyah mengkaji keindahan-keindahan yang kembali pada makna, sedangkan al-Muhassinat al-Lafdziyah mengkaji keindahan-keindahan yang kembali pada lafadz.(Ardiansyah)
4.      Ayat dan Hadits Terkait
a)      Ayat yang terkait (QS. Az-Zariyat [51]: 48)
وَٱلۡأَرۡضَ فَرَشۡنَٰهَا فَنِعۡمَ ٱلۡمَٰهِدُونَ ٤
Terjemahan: “Dan bumi telah kami hamparkan; maka (kami) sebaik-baik yang menghamparkan” (QS. Az-Zariyat [51]: 48) 
Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt membentangkan bumi berupa hamparan dengan maksud untuk dihuni oleh manusia dan hewan. Dijadikan-Nya bumi penuh rezeki dan bahan pangan, baik berupa binatangnya, tumbuh-tumbuhan maupun yang lain-lain yang terpelihara keabadiannya sampai hari Kiamat. Demikian juga Allah swt menjadikan dalam perut bumi barang-barang tambang yang tampak dan yang tidak tampak yang semuanya diperuntukkan bagi manusia. Dengan isi bumi itu manusia dapat mendirikan bangunanbangunan, membuat perhiasan dari emas, perak, dan batu-batu permata lainnya. Kemudian setelah itu manusia membuat alat perang, kapal laut, pesawat terbang dari bahan besi dan dari barang tambang lainnya. Pada akhir ayat ini Allah menyatakan kekuasaan dan keindahan ciptaan-Nya dengan mengatakan, "Betapa bagusnya apa yang telah Kami jadikan, dan betapa indahnya apa yang telah Kami ciptakan."(Quran Kemenag, Tafsir Surah Az-Zariyat Ayat 48)
b) Hadits yang terkait
إِنَّالنَّبِىَّ صلى االله عليه وسلم كَانَ إِذَارَأَ الْمَطَرَقَالَ : اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً
Artinya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan “Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”(H.R Bukhari).(Tuasikal)
Apabila Allah memberi nikmat hujan, dianjurkan bagi seorang muslim dalam rangka bersyukur pada Allah untuk membaca doa. Hujan merupakan rahmat yang Allah turunkan kepada manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.(Tuasikal) Seperti di dalam QS.Al-Baqarah ayat 22 “lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu”. Maka dari itu manusia harus bersyukur apabila hujan turun. Karena disaat Allah menurunkan hujan, air nya itu dapat membasahi tanah, buah-buahan, sayur-sayuran yang ditanam yang dengan itu dapat membuat tanah menjadi subur, buah-buahan dan sayur-sayuran dapat di masak dan dimakan. Itu semua merupakan salah satu bentuk rezeki yang Allah berikan, maka dari itu ketika hujan turun hendaknya berdoa kepada Allah. Sebagaimana telah dijelaskan pada hadits sebelumnya.
5.      Pendapat para Ulama/Ahli
1)      Tafsir Al-Misbah
Allah bukan hanya menciptakan kamu, tetapi Dia juga yang menjadikan bumi hamparan untuk kamu. Kalau kata (خلق) khalaq/ mencipta memberi kesan wujudnya sesuatu, baik melalui bahan yang telah ada sebelumnya maupun belum ada, serta menekankan bahwa wujud tersebut sangat hebat, dan tentu lebih hebat lagi Allah yang meuwujudkannya. Kalau kata khalaqa demikian halnya, maka kata (جعل) ja’ala, mengandung makna mewujudkan sesuatu dari bahan yang telah ada sebelumnya sambil menekankan bahwa yang wujud itu sangat bermanfaat dan harus diraih manfaatnya, khususnya oleh yang untuknya diwujudkan sesuatu itu, yakni oleh manusia. Jika demikian, manusia yang untuknya dijadikan bumi ini terhampar harus meraih manfaat lahir dan batin, material dan spiritual dari dijadikannya bumi ini terhampar. Jangan biarkan bumi, tanpa dikelola dengan baik. Makmurkan ia untuk kemaslahatan hidup, sambil mengingat bahwa sebagaimana ada makhluk yang diciptakan-Nya sebelum kamu, ada juga makhluk yang akan datang sesudah kamu. Yang sebelum kamu telah memanfaatkan buni ini tanpa menghabiskannya, bahkan masih menyisakan banyak untuk kamu, maka demikian pula seharusnya kamu wahai seluruh manusia masa kini, jangan habiskan atau rusak bumi. Ingatlah generasi sesudah kamu.
Dijadikannya bumi terhampar bukan berarti dia diciptakan dengan demikian. Bumi diciptakan Allah bulat atau telur. Itu adalah hakikat ilmiah yang sulit dibantah. Keterhamparannya tidak bertentangan dengan kebulatannya. Allah meciptakannya bulat untuk menunjukkan betapa hebat ciptaan-Nya itu. Lalu dia menjadikan yang bulat itu terhampar bagi manusia, yakni ke manapun mereka melangkahkan kaki mereka akan melihat atau mendapatkannya terhampar. Itu dijadikan Allah agar manusia dapat meraih manfaat sebanyak mungkin dari dijadikannya bumi demikian.
Firman-Nya: Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kamu, memberi kesan tentang betapa bumi telah dijadikan Allah Swt. Begitu mudah dan nyaman untuk dihuni manusia, sehingga kehidupan tidak ubahnya bagaikan kasur yang terhampar dan siap untuk ditiduri. Sungguh banyak yang tidak menyadari hal ini. Seandainya Allah Swt. Mencabut salah satu sarana kenyamanan atau tidak menyempurnakannya, niscaya manusia akan mengalami kesulitan hidup. Camkanlah apa yang akan terjadi bila udara yang dihirup telah terkena polusi atau lingkungan tercemar. Allah tidak menciptakannya demikian marena Dia menjadikan bumi agar dihuni dengan nyaman.
Allah bukan hanya menciptakan bumi dan menjadikannya terhampar tetapi juga menjadikan langit sebagai bangunan/atap.
Ini mengisyaratkan bahwa di atas langit dunia yang disebut ini, ada aneka langit yang lain, yang tidak sesuai dengan kondisi manusia secara umum. Aneka langt itu bila tidak  terhalangi oleh atap langit dunia, atau bila manusia berada di luar bangunan ini, niscaya hidupnya atau kenyamanan hidupnya akan terganggu.
Bukan hanya itu , Dia juga menyiapkan segala sarana kehidupan di dunia, material dan immaterial. Dia pula yang menurunkan sebagian air dari langit, yakni hujan melalui hukum-hukum alam yang ditetapkan-Nya untuk mengatur turunnya hujan. Air yang turun dari langit adalah sebagian air. Ini dipahami dari bentuk nakirah (indefinit) pada kata (ماء) ma’an. Memang bukan semua air adalah hujan, karena ada air yang bersumber dari bumi, bahkan hujan adalah air yang menguap dari bagian bumi dan membentuk awan yang kemudia kembali ke bumi.
Dia menghasilkan dengan hujan itu buah-buahan sebagai bagian rezeki untuk kamu. Sama dengan kata air, kata rezeki pun berbentuk nakirah, yang dalam ayat ini mengandung makna sebagian. Jika demikian, sumber rezeki bukan hanya buah-buahan yang tumbuh akibat hujan, tetap masih banyak lainnya, yang terhampar di bumi ini.
Karena iu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. Setelah menyebut nikmat-material yang merupakan sumber kehidupan jasmani, ayat berikutnya menyinggung nikmat spiritual yang pada awal surah ini dijelaskan fungsinya sebagai petunjuk, yakni menjadi sumber kehidupan ruhani.
Thahir Ibn ‘Asyur menjelaskan bahwa memahami makna kata ja’ala dalam arti menjadikan yakni mewujudkan sesuatu dari bahan yang telah ada sebelumnya - memahaminya demikian - memberi isyarat bahwa bumi yang kita huni dewasa ini telah mengalami perubahan dan berpindah dari keadaan ke keadaan yang lain hingga menjadi seperti sekarang. Geologi yakni ilmu tentang komposisi, struktur dan sejarah bumi mendukung pemahaman ini. Ini sejalan juga dengan isyarat firman-Nya: “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan anatara keduanya?” (QS, al-Anbiya [21]: 30).
Kata (السّماء) as-sama’ dari segi bahasa berarti “segala apa yang berada di atas Anda”. Yang demikian dimaksud “langit” oleh ayat ini adalah apa yang terlihat di atas kepala kita seperti kubah berwarna biru. Sementara ulama memahaminya dalam arti udara yang meliputi bumi kita. Oleh ayat ini as-sama’ atau udara itu , diibaratkan sebagai banngunan. Persamaanya adalah sebagaimana bangunan menjadi pelindung bagi manusia dari bahaya yang dapat  mengancamnya, maka langit yakni udara yang meliputi kita, juga melindungi manusia dan makhluk-makhluk bumi dari bahaya yang dapat mengancamnya dan yang bersumber dari lapisan-lapisan “langit” yang berada di atas “langit” yang kita lihat seperti kubah berwarna biru itu. Para ilmuwan menjelaskan bahwa ada lapisan ozon dalam stratosper berfungsi sebagai payung yang melindungi kehidupan di bumi terhadap radiasi ultraviolet yang berbahaya dengan cara  menyerap banyak gelombang pendek dari radiasi itu. Jika tidak ada ozon yang menyerapnya maka radiasi itu dapat menyebabkan sekian macam penyakit serta mengurangi sistem kekebalan tubuh dan bahan pangan dasar manusia.
Penyebutan bumi dan langit bukan saja karena keduanya sangat dekat ke benak manusia, tetapi juga karena pada keduanya terdapat nikmat yang sangat dibutuhkannya; air di bumi dan udara di langit. Di sisi lain, penyebutan dengan urutan tersebut mengisyaratkan pula bahwa air bersumber dari bumi kemudian menguap ke udara lalu turun kembali ke bumi dan  karena itu lanjutan ayat ini berbicara tentang nikmat Allah menurunkan air dari langit.
Pemahaman ayat-ayat al-Quran seperti dikemukakan ini, memang belum diketahui oleh masyarakat umat manusia ketika turunnya  al-Quran. Dari satu sisi, ini merupakan salah satu isyarat ilmiah al-Quran yang dapat menjadi bukti kebenarannya, di sisi lain ini menunjukkan bahwa kitab suci al-Quran dapat menampung makna yang beraneka ragam, serta dapat dipahami oleh ilmuan maupun orang kebanyakan. Masing-masing menimba sesuatu berdasarkan kadar dan besarnya timba yang mereka miliki.
Penciptaan langit dan bumi dalam keadaan seperti yang digambarkan di atas, tersedianya air dan tumbuh berkembang dan berbuahnya pohon-pohon menunjukkan betapa Allah telah menciptakan alam raya demikian bersahabat dengan manusia, sehingga menjadi kewajiban manusia menyambut persahabatan itu dengan memelihara dan mengembangkannya sebagaimana dikehendaki Allah Awt. Dengan menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi.(M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Quran)
2)      Thantowi Jauhari
Thantowi Jauhari, dalam kitab Tafsir Jawahir lafal فراشا diartikan بسا طا , yang berarti hamparan.(Nuri, Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran)
3)      Sayyid Quthb
Sayyid Quthb menafsirkan bahwa Allah menajadikan bumi sebagai hamparan menunjukkan pemberian aneka warna kemuahan dalam kehidupan manusia dimuka bumi ini, dan menunjukkan bahwa bumi disediakan bagi mereka untuk menjadi tempat tinggal yang menyenangkan dan tempat berlindung yang melindungi bagaikan hamparan.(Nuri, Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran)
4)      Sayid Muhammad Husain Thabathaba’I dan Ibnu Katsir
Begitu juga Sayid Muhammad Husain Thabathaba’i dan Ibnu Katsir mengaitkan hal yang sama pada penafsirannya, yaitu menjadikan bumi sebagai hamparan bagi mereka, terhampar seperti tempat istirahat.(Nuri, Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran)
5)      Tafsir Kemenag
Allah Swt menerangkan bahwa Dia menciptakan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, menurunkan air hujan, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menjadikan tumbuh-tumbuhan itu berbuah. Semuanya diciptakan Allah untuk manusia, agar manusia memperhatikan proses penciptaan itu, merenungkan, mempelajari dan mengolahnya sehingga bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan sesuai dengan yang telah diturunkan Allah.
Dengan jelas Allah menerangkan dalam ayat ini terutama pada bagian yang mengungkapkan Dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan. Dengan terang Allah menyebutkan bumi, langit dan benda-benda langit, seperti matahari dan bintang-bintang adalah ciptaan Allah yang merupakan satu kesatuan dan semuanya diatur dengan satu kesatuan sistem yang dalam ilmu pengetahuan modern disebut ekosistem.
Selama belum dirusak oleh tangan-tangan manusia yang memperturutkan hawa nafsunya, semua berjalan dengan tertib dan teratur. Laut yang luas yang disinari panas matahari kemudian menyebabkan uap air yang banyak. Uap air ini naik ke atas menjadi awan dan mendung, kemudian disebarkan oleh angin ke seluruh permukaan Bumi, sehingga uap air yang banyak sekali ini di atas gunung-gunung menjadi dingin kemudian menjadi titik-titik dan menjadi hujan dapat mengairi permukaan bumi yang luas, bukan hanya timbul hujan di atas laut, tetapi juga di darat, karena bantuan angin yang menyebarkannya. Disebabkan hujan yang turun dari langit itu kemudian bumi menjadi subur, berbagai tanaman buah, sayur, biji-bijian serta ubi dan sebagainya tumbuh dan memberikan manfaat yang banyak bagi manusia dan semua makhluk di bumi.
 Disamping itu, turunnya hujan juga menimbulkan sungai, danau dan sumur terisi air serta memperluas kesuburan bumi. Hutan yang lebat juga membantu menyalurkan air dalam bumi, membantu menyalurkan udara segar, menyejukkan udara yang panas dan memelihara kesuburan bumi. Manusia dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mengetahui kapan banyak turun hujan dan kapan jarang turun hujan atau bahkan sama sekali tidak ada hujan, berdasarkan letak bintang di langit maupun peredaran angin. Juga dapat diketahui dimana berkumpulnya ikan-ikan di laut yang banyak sekali jenis dan ragamnya, bahkan ke mana burung-burung pergi pada musim-musim tertentu dapat diketahuinya. Berikut penjelasan saintis/ilmuan tentang langit sebagai atap: Atap untuk sebuah bangunan terutama diperlukan agar penghuni yang tinggal didalamnya terhindar dari hujan dan panas matahari.
Dalam konteks ayat di atas langit sebagai atap adalah perumpamaan yang ditujukan untuk bumi tempat kita hidup. Setiap saat, bumi dihujani benda angkasa yang antara lain adalah meteorit. Akan tetapi, sampai saat ini bumi tidak porak poranda. Hal ini disebabkan bumi diselimuti oleh gas atau udara yang bernama atmosfer. Sebelum sampai ke bumi, meteorid akan terpecah belah dan hancur saat memasuki atmosfer. Sebelum sampai ke atmosfer sinar yang dipancarkan matahari pun memecahkan meteorid yang ada. Radiasi sinar matahari inilah yang dapat meledakkan meteorid dalam perjalanannya ke bumi dan kemudian diserap oleh lapisan ozon. Dengan demikian atmosfer dan lapisan ozon merupakan selubung pengaman atau dengan kata lain boleh disebut sebagai atap bagi bumi. Bumi tidak mungkin dihuni oleh makhluk hidup tanpa adanya atap tersebut.
Ayat lain yang menyatakan hal yang sama adalah QS. Al-Anbiya [21]: 32 yang artinya: Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap berpaling dari tanda-tanda (kebesaran Allah) itu (matahari, bulan, angin, awan dan lain-lainnya). (QS. Al-Anbiya [21]: 32) Tebal atmosfer mencapai 560 kilometer, diukur dari permukaan bumi. Penelitian mengenai atmosfer dimulai dengan menggunakan fenomena alam yang dapat dilihat dari bumi, seperti warna-warna indah saat matahari terbit dan terbenam, dan kilapan cahaya bintang. Dalam tahun-tahun belakangan ini, dengan menggunakan peralatan canggih yang ditaruh dalam satelit di luar angkasa, kita dapat mengerti lebih baik mengenai atmosfer dan fungsinya untuk bumi.
Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa kehidupan di bumi didukung oleh tiga hal, yaitu adanya atmosfer, adanya energi yang datang dari sinar matahari, dan hadirnya medan magnet bumi. Atmosfer diketahui menyerap sebagian besar energi sinar matahari, mendaur ulang air dan beberapa komponen kimia lainnya, dan bekerjasama dengan muatan listrik dan magnet yang ada untuk menghasilkan cuaca yang nyaman. Atmosfer juga melindungi kehidupan bumi dari ruang angkasa yang hampa udara dan bersuhu rendah. Atmosfer terdiri atas lapisan-lapisan gas yang berbeda-beda. Empat lapisan dapat dibedakan berdasarkan perbedaan suhu, perbedaan komposisi bahan kimia, pergerakan-pergerakan bahan kimia di dalamnya, dan perbedaan kepadatan udara. Keempat lapisan tersebut adalah Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, dan Thermosfer, atau dapat pula dibagi menjadi tujuh seperti yang dijelaskan pada QS. Al-Baqarah [2]: 29. Komposisi gas di atmosfer terutama terdiri atas nitrogen (78%), oksigen (21%) dan argon (1%). Beberapa komponen yang sangat berpengaruh pada iklim dan cuaca juga hadir, meski dalam jumlah yang sangat kecil seperti uap air (0,25%), karbondioksida (0,036%) dan ozone (0,015%) Perihal angin, awan dan air hujan Hubungan angin dan awan yang kemudian menghasilkan hujan dapat dijelaskan dengan melihat pada siklus air. Siklus air berlangsung mulai penguapan air laut yang membubung ke atas menjadi awan lalu turun ke bumi dalam bentuk tetes air hujan, kemudian air yang turun dalam bentuk hujan itu kembali lagi ke laut melalui sungai dan air bawah tanah.
Al-Qur'an tidak menyebut secara rinci siklus air seperti itu, akan tetapi, banyak ayat yang menjelaskan beberapa bagian dari proses keseluruhannya secara sangat akurat. Antara lain dua ayat di bawah ini. Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka gembira.(QS. Ar-Rum [30]: 48) Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya, dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.(QS. An-Nur [24]: 43) Kedua ayat di atas menggambarkan tahapan-tahapan pembentukan awan yang menghasilkan hujan, yang dalam gilirannya, merupakan salah satu tahap dalam siklus air. Dengan melihat lebih cermat kedua ayat di atas maka tampak nyata adanya dua fenomena. Pertama adalah penyebaran awan dan lainnya adalah penyatuan awan.
Dua proses yang berlawanan terjadi sehingga awan hujan dapat dibentuk. Dua proses yang disebutkan dalam Al-Qur'an ini baru ditemukan oleh ilmu meteorologi modern sekitar 200 tahun yang lalu. Ada dua tipe awan yang dapat menghasilkan hujan. Keduanya dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuknya, yaitu stratus (tipe berlapis) dan cumulus (tipe menumpuk). Pada tipe awan yang berlapis, dua tahapan penting yang terjadi adalah tahap awan tipe stratus dan nimbostratus (nimbo artinya hujan). Ayat pertama di atas (QS.Ar-Rum [30]: 48), secara sangat jelas memberikan informasi mengenai formasi awan yang berlapis. Tipe awan semacam itu hanya akan terbentuk dalam kondisi angin yang bertiup secara bertahap dan secara perlahan menaikan awan ke atas. Selanjutnya, awan tersebut akan berbentuk seperti lapisan-lapisan yang melebar (“Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit”). Apabila kondisinya cocok, (antara lain jika suhu cukup rendah dan kadar air cukup tinggi) maka butir-butir air akan menyatu dan menjadi butiran-butiran air yang lebih besar. Kita dapat melihat proses tersebut sebagai menghitamnya awan. Dalam terjemahan Quraish Shihab, bagian ini disebutkan sebagai: “dan menjadikannya bergumpal-gumpal”. Namun dalam terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Inggris, bagian ini diterjemahkan sebagai: “and makes them dark”. Akhirnya, butiran air hujan akan jatuh dari awan: “lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya”. Tipe awan yang kedua yang dapat menghasilkan hujan adalah tipe awan yang bertumpuk-tumpuk. Awan ini terbagi berdasarkan bentuknya dalam beberapa nama, yaitu cumulus, cumulonimbus dan stratocumulus. Awan ini ditandai oleh bentuknya yang bergumpal-gumpal dan saling bertumpuk. Cumulus dan cumulonimbus adalah tipe awan yang bergumpal-gumpal, sedangkan stratocumulus tidak bergumpal, sedikit menipis dan melebar.
Ayat kedua (QS. An-Nur [24]: 43) menjelaskan pembentukan tipe awan ini. Awan tipe ini dibentuk oleh angin keras yang mengarah ke atas dan ke bawah “bahwa Allah menggerakkan awan”. Dalam terjemahan Al-Qur'an bahasa Inggris, bagian ayat ini diterjemahkan sebagai: “drives clouds with force”. Mendorong awan dengan kuat. Ketika gumpalan awan terjadi, mereka menyatu menjadi gumpalan awan raksasa, bertumpuk-tumpuk satu sama lain. Pada titik ini, awan cumulus atau cumulonimbus sudah dapat menghasilkan air hujan. Kalimat selanjutnya dari ayat ini, nampaknya menggambarkan secara khusus terjadinya cumulonimbus, suatu keadaan awan yang dikenal dengan nama awan badai. Tumpukan gumpalan awan yang menjulang ke atas ini apabila di lihat dari bawah mirip dengan bentuk gunung. Dengan menjulang tinggi ke angkasa maka butir air yang sudah terbentuk akan membeku menjadi butiran es (“lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya, dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung”), Awan cumulonimbus juga menghasilkan ciptaan Tuhan yang sangat berharga, yaitu halilintar (“kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan”). (Quran Kemenag, Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 22)
6.      Analisis Kandungan Makna
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 22 yang menjadi ayat utama dalam artikel ini, meupakan salah satu ayat yang membahas tentang alam yaitu bumi dan langit serta fenomena yaitu diturunkannya hujan. Dalam arti ayat tersebut terdapat kata hamparan yang belum diketahui maknanya secara jelas, jadi hamparan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu sesuatu yang dihamparkan (tikar permadani dan sebagainya) . Di dalam buku Al Fathun Nawa juga terdapat kandungan pembaharuan kemanusiaan dalam bentuk nasihat; Dalam hidup dan kehidupan di muka bumi, bumi yang dijadikan Tuhan dalam bentuk hamparan adalah tempat kediaman bagi manusia. Tempat membina kehidupan dan menempa keberhasilan. Di samping itu Tuhan mengemukakan kepada manusia bahwa langit yang tampak seperti atap adalah satu khazanah keindahan untuk menjadikan manusia bisa menerima hujan serta ia dijadikan sebagai tempat renungan hati dan dirinya terhadap kekuasaan Tuhan yang menciptakannya. Demikianlah jika dirinya berakal, tentu ia akan dapat menggabungkan setiap unsur ciptaan Tuhan yang lain. Kemudian manusia mampu menghasilkan satu bentuk furqan yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupannya. Renungkanlah!(N) 
7.      Pesan-Pesan Pendidikan
Terdapat juga pesan-pesan pendidikan dari materi artikel ini yang berdasarkan juga dengan QS. Al-Baqarah ayat 22 yaitu:
Menjadi seorang Muslim memang seharusnya mempelajari dan memahami ayat-ayat Al-Quran. Karena Al-Quran merupakan salah satu pedoman hidup manusia selain Hadis dan Sunnah Rasulullah SAW, yang ketiganya ini harus kita yakini dan ikuti. Saat seseorang mempelajari ayat Al-Quran dengan bersungguh-sungguh maka ia akan menemukan banyak sekali ayat Al-Quran tentang alam dan fenomena. Terdapat banyak sekali ayat Al-Quran mengenai alam dan fenomena, diantaranya tentang penciptaan langit dan bumi, bagaimana cara Allah dalam menciptakan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, adanya matahari, bulan, dan bintang yang tempatnya di langit, cara Allah menurunkan air hujan.  Adapun manfaat dari turunnya air hujan yaitu bisa menyuburkan tanah maupun tanaman yang ada di bumi ini yang menyebabkan tidak adanya kekeringan, dan tumbuhlah segala jenis makanan yaitu sayuran dan buah-buahan yang dapat dimakan. Itu semua merupakan bentuk nikmat rezeki yang Allah berikan yang sering sekali kita lupa untuk mensyukurinya. Maka dari itu, pelajarilah ayat Al-Quran dengan baik maka hati kita bisa dengan mudahnya bersyukur kepada Allah atas apa yang Dia berikan. Dengan mentadabburi ayat Al-Quran mengenai alam dan fenomena, kita akan lebih sadar bahwa betapa indahnya tujuan Allah menciptakan langit dan bumi yang keduanya memiliki manfaatnya masing-masing. Dan hal ini akan membuat seseorang akan lebih yakin dan percaya bahwasannya hanya Allah semata yang menciptakan segala sesuatu yang ada di kehidupan ini dan hanya Allah Tuhan yang berhak disembah.

C. KESIMPULAN
Pendidikan merupakan suatu proses pendewasaan, sehingga orang menjadi lebih matang dalam bersikap dan bertingkah laku. Sedangkan para ahli tafsir Bahasa Arab memaknai kata “alam” sebagai “kumpulan sejenis makhluk Allah yang hidup baik sempurna maupun terbatas yang ditandai dengan adanya gerak, rasa, dan tahu”. Fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah (sepeti fenomena alam). Al-Quran yang secara harfiah berarti “bacaan sempurna” merupakan suatu nama pilihan Allah yang sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi Al-Quran Al-Karim, bacaan sempurna lagi mulia itu. Dalam perspektif Islam, alam semesta adalah segala sesuatu selain Allah Swt. Karenanya, alam semesta bukan hanya langit dan bumi, tetapi meliputi segala sesuatu yang ada dan berada diantara keduanya. Tidak hanya itu, dalam perspektif Islam, alam semesta tidak hanya mencakup hal-hal yang kongkrit atau dapat diamati melalui penginderaan manusia, tetapi mencakup juga segala sesuatu yang tidak dapat diamati oleh penginderaan manusia. Dalam Islam, segala sesuatu selain Allah Swt, yang dapat diamati atau didekati melalui penginderaan manusia disebut sebagai ‘alam syahadah. Ia merupakan fenomena. Sementara itu, segala sesuatu selain Allah Swt, yang tidak dapat diamati atau didekati melalui penginderaan manusia disebut ‘alam ghaib. Karenanya, ia adalah noumena.

DAFTAR  PUSTAKA
Ade Jamarudin. “Konsep Alam Semesta Menurut Al-Quran.” Jurnal Ushuluddin, vol. 16, no. 2, 2010, pp. 136–51, http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/ushuludin/article/view/670/621.
Al-quran, Dalam, et al. “Awal Kejadian Alam Semesta Dalam Al-Quran (.” Suhuf, vol. XVII, 2005, pp. 97–107.
Al-Sabuniy, Muhammad ’Ali. Safwah At-Tafasir Juz 1. 1981, p. 43.
Ardiansyah. Al-Muhassinat Al-Badi’iyyah Pada Ayat-Ayat Hukum Tentang Berjuang Di Jalan Allah. pp. 447–64, file:///C:/Users/TOSHIBA/Downloads/553-1622-1-PB (1).pdf.
Atmonadi. Kun Fayakun : Buku Pertama : Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu. Atmoon Self Publishing, 2018, https://books.google.co.id/books?id=9shyDwAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_ge_summary_r&cad=0#v=onepage&q&f=false.
Kamus Al-Maany. https://www.almaany.com/id/dict/ar-id/. Accessed 24 Apr. 2020.
Maschinen, B., et al. No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康関連指標に関する共分散構造分析Title.
N, Dr. Halo. Al Fathun Nawa. Edited by Hasbullah bin Zakaria, 1st ed., Hafizul Publications, 2016.
Nuri, Nafisatun. Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran. Universitas Islam Negeri Walisongo, 2019.
---. Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran. Universitas Islam Negeri Walisongo, 2019.
---. Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran. Universitas Islam Walisongo, 2019.
---. Skripsi Makna Bumi Sebagai Hamparan Dalam Al-Quran. Universitas Islam Walisongo, 2019.
Quran Kemenag. Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 22. https://quran.kemenag.go.id/index.php/sura/2. Accessed 29 Apr. 2020.
---. Tafsir Surah Az-Zariyat Ayat 48. https://quran.kemenag.go.id/index.php/sura/51/48. Accessed 29 Apr. 2020.
Rasyidin, Al. Falsafah Pendidikan Islami. CitaPustaka Media Perintis, 2008.
---. Falsafah Pendidikan Islami. Pertama, CitaPustaka Media Perintis, 2008.
Ruminiati. Sosio Antropologi Pendidikan Suatu Kajian Multikultural. 2nd ed., Penerbit Gunung Samudera, 2016.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah : Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Quran. 1st ed., Lentera Hati, 2000.
---. Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat Wawasan Al-Quran. 13th ed., no. November, Mizan, 1996, www.bektiharjo.com.
Shihab, Muhammad Quraish. Tafsir Al-Misbah : Pesan-Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al-Quran. Lentera Hati, 2004.
Tuasikal, M. Abduh. “Menjaga Kesehatan Di Musim Hujan.” Pustaka Muslim, 2014, pp. 2–3.






Komentar

Postingan populer dari blog ini